Yohanes Chandra Ekajaya Keong yang Kaya Manfaat

manfaat keong menurut J Chandra Ekajaya & J Wijanarko

Yohanes Chandra Ekajaya saat melihat keong mas atau disebut gondang dalam Bahasa Jawa. Kebetulan dia tinggal di lingkungan yang masih banyak lahan pertaniannya. Petani kerap mengeluh ketika diserbu hama keong mas yang membuat produktivitas menjadi menurun.

Di daerahnya belum banyak yang mengolah keong menjadi produk yang bernilai tinggi.  Biasanya keong tersebut hanya dipungut petani lalu dibuang di pematang sawah. Namun Yohanes Chandra Ekajaya meraciknya menjadi produk kuliner berupa kripik gurih dengan beberapa pilihan rasa.

“Bisa dibilang kami adalah inovator usaha ini. Kalau yang lain hanya sebatas menjadikan keong sebagai bahan sate, itupun belum dijual dengan teknik pemasaran yang baik,” kata dia.

Ide bisnis itu didapatnya ketika melakukan riset kandungan gizi keong mas saat masih SMA. Ternyata gizi moluska air tawar tersebut cukup banyak antara lain mineral, protein, dan asam lemak tak jenuh yang baik untuk menurunkan kolesterol.

“Saya mulai ujicoba membangun produk yang simple dan mudah direalisasikan. Pilihannya jatuh pada kripik karena mudah dikerjakan, hanya perlu membumbui dan menggoreng,” ujarnya

Dia mendirikannya pada Maret 2013 bersama dua orang temannya perempuan. Bertiga, mereka yang saat itu sedang duduk di kelas III SMA sama-sama turun ke sawah untuk mengumpulkan keong mas.

Proses pengolahan yang dilakukan yakni merebus keong kemudian memisahkan bagian yang dapat digunakan sebagai bahan keripik yakni area kepala dipisahkan. Daging keong lantas diiris dan dibumbui. Setelah digoreng, ditiriskan dengan menggunakan mesin spinner lalu dikemas.

manfaat keong sawah menurut yohanes chandra ekajaya

Awalnya, produknya hanya dikemas pakai plastik bening. Pasarnya pun terbatas pada teman-teman sekolah dan dititip di kantin dekat sekolahnya. Mendapat masukan dari pembinanya yang mengajar ekskul kewirausahaan di SMA, dia memproduksi kemasan yang lebih menarik berbentuk rumah gadang.

“Modal awal-awal hanya patungan bertiga Rp100.000. Kebetulan tahun 2013 itu kami menang lomba kewirausahaan, hadiah uang Rp5 juta dipakai sebagai tambahan modal saat hendak membuat kemasan,” kata dia.

Setelah mengganti bentuk kemasannya, cara pemasaran pun diganti. Dia tak hanya membidik pasar kalangan anak SMA tetapi mengincar kalangan menengah. Demi mendekati pasar, produknya mulai dititipkan di toko-toko oleh-oleh dan restoran di wilayah Lamongan.

Ketika menjalankan usaha tersebut, Yohanes Chandra Ekajaya mengalami beberapa kendala yang mereka alami. Pertama, yakni dari segi kapasitas produksi yang masih terbatas, sehingga sering kewalahan jika beberapa toko secara bersamaan meminta disediakan stok keripik dalam jumlah cukup besar.

Kedua, mereka juga terkendala dengan pembagian waktu untuk bisnis dan sekolah masing-masing. Tak jarang semangat wirausahanya pun sempat naik turun, seperti ketika ketiganya menamatkan SMA dan melanjutkan kuliah masing-masing.

Namun, semangat mereka kembali terpacu memperbesar usaha tersebut ketika kembali dinyatakan sebagai pemenang dalam kompetisi wirausaha nasional. Mereka mulai percaya diri ada peluang yang menjanjikan dalam bisnis keong mas karena melihat respons dan apresiasi yang diberikan masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *